Ustad Dr. Ilham Maulana
Balai Pengajian An Nur
Keutapang, Banda Aceh
Ba'da Subuh, 25 Desember 2020
Semua nikmat yang Allah berikan akan tidak bermanfaat jika tidak kita gunakan untuk meningkatkan ibadah, ketaqwaan dan kedekatan kita kepada Allah.
Niat menjadi tolak ukur sebuah amalan, sia sia atau berharga.
Allah menjelaskan ke sia siaan orang orang yang melaksanakan sholat "wailul lilmushalliin".
Allah Berfirman dalam surat Ali Imran ayat 152
.....مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ....
....Sebagian dari kalian menginginkan dunia dan sebagian kalian menginginkan akhirat..
Hanya manusia dan jin yang diberikan pilihan oleh Allah, yang baik dan buruk.
Cacing misalnya tidak Allah berikan pilihan kepadanya, hanya bergerak dan masuk ke dalam tanah. Dia mati jika keluar dari fitrahnya.
Al Furqan (nama lain Al Quran) adalah pembeda, pembeda dari yang hak dan bathil.
Semua isi di dalam Al Qur'an ada petunjuknya bagi kita yaitu jalan baik dan buruk (taqwa atau fujur).
Dalam surat Al Mukminuun misalnya Allah jelaskan ciri ciri orang mukmin yang beruntung salah satunya meninggalkan perkara "lagha".
Mudah sekali untuk kita membedakan mana yang baik dan buruk. Rasulullah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan diantara keduanya ada yang syubhat....siapa saja yang memelihara dirinya dari yang "lagha" dia sudah memelihara dirinya dan keluarganya, dan siapa yang tergelincir ke dalam yang lagha sungguh dia seolah olah tergelincir ke dalam yang haram.
Pilihan sudah jelas dari Allah, petunjuknya pun (kisi kisi) sudah ada "aneh" kalau kita masih salah dalam memilih.
Siapapun yang tergelincir dari kita adalah karena kesengajaan kita, tidak ada yang pura pura "lupa". Allah selalu menggandengkan dua hal kebaikan dan keburukan ini di dalam Al Qur'an.
"Siapa saja yang menginginkan dunia maka kami segerakan kepadanya apa yang dia inginkan".
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) }
Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Q.S Al Isra 18-19).
Perbedaan Amal sholeh dan kebaikan.
Amal sholeh mengharapkan balasan dari Allah sedangkan "kebaikan" belum tentu.
Dunia adalah ladang akhirat. Apa yang Allah berikan kemudahan di dunia ini merupakan modal untuk akhirat kita, adalah rugi besar kalau modal ini tidak memberikan kita keuntungan di akhirat kelak.
Usman bin Affan sampai saat ini masih mendapatkan keuntungan dari infaqnya.
Abdurrahman bin auf menjadi kaya raya, namun tetap dalam ketaqwaan kepada Allah (sholat malam, selalu berzikir dsb).
What you see is what you get...(kata kata yang sering digunakan motivator), yang membuat seseorang termotivasi untuk berbisnis dsb.
Da'i juga seorang motivator yang memotivasi seseorang untuk takut kepada Allah.
Ada seorang (mahasiswa Dr. Ilham) yang termotivasi dengannya dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa, dia mendapatkan nya setelah 54 kali ikut test. Pesan terakhir Dr. Ilham "kamu jangan berubah ketika pulang dari Amerika (karena saat ini kamu sudah taat kepada Allah). Akhirnya dia nikah dengan seorang anak pengusaha muslim (penerbit Quran Syaamil). Dan selalu anak ini kirim pesan ke Dr. Ilham bahwa dia belum berubah.
Pola pikir kita terkadang harus dirubah, misalnya ketika kita mendapatkan rezeki yang banyak setelah itu Allah datangkan musibah/ kemalangan dan kita suuzzdon kepada Allah. Padahal yang benar adalah Allah membekali kita terlebih dahulu sebelum Allah uji kita dengan kemalangan tadi. (harus tetap kita syukuri).
Al Isra ayat 19. (Wasaa laha sa'yaha), untuk akhirat kita intinya usaha kitalah yang Allah nilai. Sedangkan untuk urusan dunia Allah akan segerakan.
Silahkan kejar dunia, namun itu bukanlah orientasi kita. Akhiratlah tujuan kita (dunia ladang amal untuk akhirat).
Wallahu'a'lam.
===== ### =====
Tanya 1. Allah menilai usaha kita?
Jawab
Setelah kita mencari kebenaran dengan usaha yang maksimal Allah hitung ini sebagai amal sholeh kita. Misalnya arah kiblat di Aceh hanya ditahun tahun terakhir ini banyak dirubah ke arah yang tepat (Makkah) yang dulunya ke arah Abu Dhabi, banyak orang orang dulu yang sudah meninggal dan sholat ke arah kiblat yang salah, namun Allah tetap menilai usaha mereka sebagai Amal kebaikan, karena saat itu segitulah usaha mereka/ilmunya.
Mustami'
Khairul Fajri

Komentar
Posting Komentar